Pantai Watotohu, Surga Bahari Yang Tersembunyi di Buton Tengah

Catatan Perjalanan Amrin Lamena di Pantai Watotohu



“Sekali mencoba untuk berpetualang maka kau akan terus tertarik untuk melakukakannya, entah hanya sekedar melepas penat dari lelahnya pekerjaan atau mencari sesuatu hal yang lebih dari itu,”


Pantai Watotohu. Foto : Amrin Lamena

Pada tanggak 27 Juni 2020, bersama para sahabat di komunitas Buton Tengah Creatif (BTC), saya kembali melakukan camp. Ini suda menjadi ritual rutin kami di Buton Tengah Creatif,  bukan hanya sekedar camping melawati malam minggu di alam bebas lalu esoknya pulang ke rumah masing-masing.

Lebih dari itu, setiap ada agenda pembahasan atau rapat kerja, kawan-kawan BTC selalu melaksanakannya dengan cara yang berbeda, camp di bukit, hutan atau di pantai. Ya, mungkin sekalian refresing, apa lagi beberapa kawan di komunitas ini pekerja kantoran sekaligus merangkap sebagai intrepreneur. Kebayangkan sesibuk apa kawan-kawan saya ini? Berbeda dengan saya entah sebagai apa, hampir tidak ada kesibukan.

Camping kali ini lokasinya tak jauh dari rumah, Yakni di Pantai Watotohu di Desa Inulu Kabupaten Buton Tengah, dari rumah jaraknya hanya sekitar 4 kiloan. Kurang lebih sih.
Dari rumah salah satu teman yang  masi sekampung dengan saya, kawan-kawan mulai berdatangan satu persatu, sembari menunggu kawan-kawan yang lain kami mulai peking, mengemas barang yang akan di bawah.
Main Pasir di Pantai Watotohu, Buton Tengah. Foto : Amrin Lamena

Pukul 15.45 Wita barang-barang suda selesai dibereskan dan kawan-kawan yang ditunggu suda mulai berdatangan, sekalipun masi sebagian, sisanya akan menyusul setelah kita tiba di lokasi.

Karena jaraknya cukup dekat, tak membutuhkan waktu yang lama untuk tiba di lokasi. Setibanya di lokasi camp, kami tak langsung mendirikan tenda, kawan-kawan terlebih dahulu membersihkan sampah-sampah ranting dan bantang kayu yang diseret ombak ke Pantai ini.

  Pantai Watatohu memang letaknya strategis, berada di tengah-tengah di Kecamatan Mawasangka Timur, namun pantai ini masi kurang tereksplos dan jarang diketahui orang luar. Padahal pantai ini cukup indah dan masi alami. Pantai Watotohu layakanya surga bahari yang masi tersembunyi.

Sayangnya disini terdapat tempat hiburan malam, makanya mungkin ini juga yang menjadi salah satu penyebab pantai ini kurang diminati sebagai tempat rekreasi keluarga.Teman-teman ini pun sebenarnya sempat meminta untuk pinda lokasi setelah mengetahui kalau di Pantai yang indah ini memiliki tempat hiburan yang umumnya hanya ada di kota-kota metropolitan. Tapi setelah saya coba yakinkan kalau di tempat ini cukup aman akhirnya teman-teman itu mahu mendengar pejelasan saya dan tetap camp disini.

Selesai bersih-bersih, kami mulai membangun tenda camp, ada sekitar 11 tenda yang terbangun. Selesai membangun tenda, sembari menunggu malam, kawan-kawan kembali bersantai dan bersewafoto mengabadikan pemandangan di pantai ini, pasir putih, air laut biru jernih dan pohon-pohon kelapa yang melambai di tepian panti menjadi kekaguman tersendiri sore ini.

Tak terasa mentari sore itu telah kembali dengan sempurnah, teman-teman mulai sibuk menyiapkan makan malam, ada yang sebagai juru bakar, peracik bumbu, dan makan malam kali ini kami lewati dengan penuh kehangatan, dan kebersamaan sekalipun sangat sederhana.

Sekalipun beberapa di antara kami belum mengenal satu sama lain, tapi itu tak membuat sungkan apa lagi canggung. Seperti kata bijka para picinta alam, alam akan selalu menghadirkan keharmonisan, mengenalkan dan merekatkan setiap pengagumnya. Iya, mungkin kita punya kesibukan yang berbeda tapi kita memiliki hobi yang sama.

Perut yang semula awalnya kosong kini mulai terisi, makan malam kami cukup lahap. Seusai makan, kami beristrahat sejenak menurunkan makanan yang memenuhi lambung kami, tak lama kemudian kami kembali malanjutkan yang menjadi agenda utama kami. Membahas program komunitas yang beberapa bulan telah tertunda karena Covid-19.

Sekalipun bebrapa bulan tak bersua, ternyata teman-teman masi memiliki semangat yang sama, semangat menggagas kota kreatif. Iya, kawan-kawan saya ini para pekerja seni, mereka adalah pelaku usaha ekonomi kreatif, dari kuliner, fashion, kriya hingga kedai kopi. Trus saya apa? Jangan tanya, saya hanya orang yang suka berkomunitas dengan kawan-kawan saya ini.

Beberapa lama berbicang sambil menyeruput kopi, setelah dirasa pembahasan suda cukup. Kawan-kawan kembali pada kesibukannya masing-masing, ada yang curhat di depan tenda, main gitar sambil nyanyi, dan kebetulan air laut lagi surut, sebagiannya lagi turun menyulu. Katanya persiapan saat lapar tengah malam.

Menjelang dini hari, kawan-kawan yang sedari tadi menahan ngantuk akhirnya memutuskan masuk tenda untuk mengumpulkan tenaga, karena harus kembali bangun pagi-pagi sekali, soalnya beberapa kawan yang dari Baubau paginya suda harus balik menumpang spit penyebarangan Lamena- Baubau pada pukul 7.00 pagi.
Bersantai di Pantai Watotohu. Foto : Amrin Lamena

Saat pagi, memanfaatkan waktu yang ada kawan-kawan ini tak mau ketinggalan untuk menyempatkan waktu mengabadikan momen ini. Sayangnya saat sebelum meninggalkan lokasi camping, sanrise belum benar-benar sempurnah terlihat. Padahal salah satu momen yang ditunggu-tunggu di pantai ini adalah fajar yang terbit dibalik bebukitan di ufuk barat.

Apa boleh buat, pertualangan adalah perihal perjalanan untuk kembali pulang, bukan untuk berleha-leha mempertahankan ego, sementara masi ada sesuatu hal yang mendesak yang mesti dikerjakan di rumah.

Sekalipun begitu, kawan-kawan ini ternyata sangat menyukai pantai ini. Menurut mereka Pantai Watotohu memiliki landscape alam yang masi natural dan jauh dari ributnya kendaraan yang lalu lalang.

“Sayang sekali pantai seindah ini tidak dimanfaatkan dengan baik, padahal tempatnya sangat indah, sangat cocok untuk dikembangkan sebagai salah satu destinasi wisata,” kata selah seorang teman yang dalam perbincangan kami.

Nama Pantai Watotohu lebih dikenal sebagai tempat hiburan malam ketimbang layaknya pantai yang indah yang selalu menjadi tujuan wisata. Sekalipun disini ada satu bangunan sebagai tempat hiburan malam, tapi itu belum cukup mengurangi keindahannya. Dan semoga saja tidak ada lagi bangunan-bangunan serupa yang dibangun disini.

Dari Pantai Watotohu saya memetik pelajaran berharga, bahwaa keberadaan alam diperuntukan untuk manusia, dan manusia lah yang bertanggung jawab penuh untuk memastikan apa yang telah dititipkan itu. Dan hanya orang-orang yang tepat yang dapat memastikan bahwa ia benar-benar pada peruntukannya.

Tonton Juga Video lengkapnya :



Posting Komentar

0 Komentar