Wisata Religi Buton Tengah, Makam Sangia Wambulu di Hutan Purba Yang Instagrammable


Wisata Religi Buton Tengah - Kabupaten Buton Tengah (Buteng), merupakan salah satu daerah di Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) yang memiliki banyak objek wisata yang bisa dikunjungi oleh wisatawann. Selain destinasi wisata alam seperti pantai dan gua. Daerah yang dikenal 'negeri seribu gua' ini juga terdapat objek wisata religi, yakni makam Sangia Wambulu.

Baruga Makam Sangia Wambulu. Foto : Amrin Lamena

Objek wisata religi ini tepatnya terletak di hutan purba di Desa Baruta, Kecamatan Sangia Wambulu. Di  dalamnya terdapat makam imam pertama Masjid Agung Keraton Buton yang dikeramatkan karena kesucian dan keilmuan agamanya islamnya yang mendalam. Disekitar makam ini tumbuh menjulang pohon-pohon besar yang suda berusia ratusan tahun, menjadikannya wisata alam bernuansa religi yang sangat instagrammable.

Di dalam hutan yang memiliki luas sekitar 1 hektar ini,  dari pintu  gerbang, berjarak sekitar 500 meter ke dalama hutan, kita akan menjumpai sebuah bangunan seperti baruga dengan chat warna putih polos yang unik dan terlihat antik, menjadikanya sebagai salah satu objek untuk berswafoto para penjiara ketika berkunjung di makam itu. Di dalam bangunan itu terdapat beberapa kamar dan ruang shalat yang dilengkapi dengan beberapa perlengkapan shalat. Di samping baruga itulah Makam Sangia Wambulu.
Jalan di hutan purba menuju makam Sangia Wambulu. Foto : Amrin Lamena

Jalan di dalam hutan menuju Makam Sangia Wambulu dibuatkan berupa setapak yang sengaja dibuat berupa jalan rapat beton yang dipenuhi lumut, namun jangan salah jalan ini selalu bersih. Tidak ada tumpukan daun yang berserahkan di atas jalan-jalan itu. Padahal hijau pepohonan tinggi dan besar berjejer disamping kiri dan kanan bahu jalan. Ini juga yang membuat para pengunjung ketika berada disana enggan ketinggalan untuk mengabadikannya, suasana jalan di hutan purba ini menyajikan suasana dan pemandangan hijau alamiah yang sangat instagrammable.

Sangia Wambulu sendiri, merupakan gelar yang diberikan oleh penduduk Desa Baruta kepada Imam pertama Masjid Keraton Buton karena dianggap sebagai sesosok religius yang mengasingkan diri di karenakan terjadi huru har pada masa itu.  Sangia Wambulu selain religius dengan kecakapan ilmu agama islamanya juga dianggap sakti karena mampu mengarungi derasnya arus di Selat Pulau Buton bersama keluarganya dengan hanya menggunakan perahu kecil. Ketika berkunjung disana, miniatur perahu itu akan Anda jumpai tepat di depan pintu makam, sebagai simbol perjuangannya.

Miniatur Perahu Sangia Wambulu. Foto : Amrin Lamena
Dari beberapa narasi yang berkembang dari mulut kemulut oleh masyarakat setempat, mereka meyakini, kalau perahu tersebut juga menjadi alat transportasi yang dipakai Sangia Wambulu dalam melakukan diplomasi dan urusan ke agamaan dengan Kesultanan Ternate dimasa itu. Selain itu, ada juga tradisi yang menjadi peninggalan Sangia Wambulu yang sampai hari ini di lestarikan oleh masyarakat Buton yakni Kande-kandea, atau makan-makan. Dimana khusus pada masyarakat Kecamatan Sangi Wambulu tradisi ini dilaksanakan 3 hari setelah hari raya idul fitrih yang dimaksudkan untuk berbagi dengan masyarakat yang kurang mampu dan sebagai ajang selaturahmi.

Baik sebelum dan sesudah di tetapkan sebagai salah satu objek wisata religi pada tahun 2016 oleh Pemda Kabupaten Buton Tengah, Makam Sangia Wambulu banyak diziarahi dari masyarakat Buton dan bahkan dari luar Buton yang masi memiliki hubungan erat dengan Kesultanan Buton, biasanya kunjungan ramai menjelang dan setelah lebaran idul fitri. 

Objek Wista religi di Kabupaten Buton Tengah ini juga dijaga oleh sembilan orang wanita penjaga. Oleh simbilan perempuan penjaga ini lah yang merawat dan membersihkan kawasan makam Sangia Wambulu sehingga kawasan makam ini selalu bersih setiap saatnya. Biasanya simblan perempuan penjaga ini akan melaksanakan ritual pada makan yang berada di hutan purba ini, biasanya 2 kali dalam seminggu yang dilaksanakan pada hari rabu dan jum'at. Bagi traveler yang hobby dengan wisata religi, upacara ini sangat recomennded untuk disaksikan. Tidak jarang banyak pengunjung yang menginap di baruga depan makam itu, ada yang bertujuan hanya untuk sekedar uji nyali, adapula yang berburu wangsit.

Makam Sangia Wambulu. Foto : Amrin Lamena

Uniknya, sembilan perempuan penjaga ini menempati sebuah rumah adat di Desa Baruta dan sebagian besar perempuan penjaga tersebut berstatus janda dan dipimpin satu orang yang disebut kabolosi (dalam bahasa setempat) yang berarti pengganti. Dimana dalam proses penentuan seorang kabolosi ini melalui ritual yang sakral dan seorang kabolosi  yang masi merupakan keturunan kabolosi yang telah menjaga makam sebelumnya. Dan proses penentuannya juga harus mendapat wangsit dari Sangia Wambulu.

Tercatat suda belasan kabolosi dan pembantu secara turun temurun menjaga makam Sangia Wambulu. Dan proses pergantian kabolosi akan dilakukan setelah jika kabolosi yang menjadi pemimpin delapan perempuan penjaga ini telah meninggal dunia.

Untuk sampai ke makam Sangia Wambulu ini, dari Kota Baubau (kota terdekat) Anda bisa menggunakan jasa penyebrangan kapal Ferry dengan memakan waktu 30 menit Anda bisa sampai ke Buton Tengah. Atau bisa juga Anda menggunkan jasa penyebrangan Spit boat atau katinting jarangka. Setelah sampai di pelabuhan Wamengkoli, dalam perjalanan Anda akan mendapati simpang tiga dan Anda akan mengambil jalur kanan setelag gerbang islami Buton Tengah. Dari gerbang Islami itu Anda akan tiba di Makam Sangia Wambulu dengan jarak tempuh cukup memakan waktu sekitar 40 menit.

Nah itu dia kunikan dan daya tarik dari wisata religi di Buton Tengah. Penasaran dengan keuinikan dan keindahan makam Sangia Wambulu? Yuk berkunjung kemakam Imam Masjid pertama Kesultanan Buton.

Posting Komentar

0 Komentar