Rahasia Wisata Bali Jadi Kunjungan Dunia dan Kenyamanan Masyarakat Lokal

Destinasi Wisata Bali. Sumber : Google.com

BUTONISLANDTRAVELING.COM, BALI - Wisata Bali seakan tidak pernah ada habisnya untuk dipuji. Selain destinasi wisata Bali menawarkan tempat-tempat wisata yang indah dan instagramabel. Dunia memandang objek wisata bali memiliki keunikan yang mungkin tidak akan bisa kita temui di daerah lainnya, paket wisata bali yang memadukan keindahan alam dan kekhasan budayannya menjadi daya tarik tersendiri hingga sampai saat ini wisata bali menjadikan Pulau Dewata itu sebagai pintu gerbang utama internasional di Nusatantara.


Ternyata hal itu tidak terlepas dari kekuatan manusianya yang mampu berinovasi dan memiliki kesadaran, bahwa kunci keberhasilan pengembangan pariwisata bukan hanya terletak pada destinasi wisatanya, tapi juga kreativitas manusianya yang mampu menciptakan suatu ekosistem ekonomi kreatif dan sajian budaya unggulan. Peran itu dimainkan oleh seluruh kompenen mulai dari masyarakat, dan Pemerintah daerah. Bagaimana sih peran itu bisa berjalan dengan baik? Ini dia kami rangkumkan dari berbagai sumber untuk para sahabat Buton Island Travelling.

Denpasar, Kota Kreatif Berbasis Budaya

Sepanjang sejarahnya, Bali merupakan pintu gerbang utama bagi dunia Internasinal di Nusantara, pun nama Bali bahkan lebih ngetren dibanding nama Indonesia sendiri.  Bali  pun menjadi domain yang terbuka bagi berbagai proses kebudayaan, seperti transformasi, akulturasi, dan amalgamasi. Dalam catatan Indonesia Creative Cities Network (ICCN), kota ini telah mengalani berbagai tahap evolusi ekonomi, mulai dari pertanian, industri, informasi, dan saat ini kreatif, yang membaur menjadi satu sebagai dampak dari dunia yang makin tak terbatas, globalisas dan percepatan teknologi informasi dan komputer.

Manusia Bali tidak hanya dituntut untuk berpikir murni, mulia dan melakoni aksi dengan benar dan jujur, namun mesti mennyampaikannya juga secarah indah, dalam bahasa Bali yakni, siwam, satyam, dan sundaram. Konsepsi inilah yang menjadi benang merah manusia Bali untuk menunjukan, bahwa kreativitas merukapan sebuah keutaman yang tumbuh subur di Bali. Konsepsi itu juga menunjukkan, bahwa kreativitas merupakan sebuah pengabdian yang positif untuk mencapai khazanah kemasyarakat yang penuh ketaatan, cinta kasih, dan keharmonisan lahir dan batin.

Bagi masyarakat Bali, kreativitas adalah pola pikir, sikap, dan aksi yang merangsang inovasi, komitmen, orisinalitas, dan transformasi untuk membangun diri secara berkesinambungan dalam berbagai aspek kehidupan demi kualitas hidup yang  senantiasa bermutu dan baik. Sebagai sebuah proses, kreativitas tak terlepas dari pergulatan antara imajinasi dan sains yang melingkupi ranah seni, budaya, teknologi, kewirausahaan, yang masti didasari oleh kecerdasan intelektual (IQ), kecerdasan emosional (EQ), dan kecerdasan spiritual (EQ).

Munculnya Bali Creative Community 

Hampir satu dasarwasa yang lalu, komunitas, pelaku usaha, dan Pemerintah Kota Denpasar menyambut baik upaya aktivitas kota melalui pemaknaan ekonomi kreatif sebagai ekonomi gelombang ke-4. Inisiatif pembentukan Bali Creative Cmmunity (Komunitas Kreatif Bali) pada tahun 2008 dengan aktivitas awal berupa festival kreatif yang dibingkai dalam acara Bali Creative Power 2008, yang kemudian dilanjutkan dengan penyelenggaraan Bali Creative Festival I dan II berturut-turut pada tahun 2010 dan 2011. Penyelenggaraan festival-festival tersebut bertujuan untuk mengedukasi dan mengampanyekan maanfaat dan dampak dari pembangunan ekonomi kreatfi.

Bali Creative Community lahir dari ide yang sangat sederhana, bahwa kreativitas sangatlah lekat dengan keseharian manusia di Bali. Situasi menuntu, bahwa selain dirayakan, kreativitas mesti dipetakan dan dicitrakan secara terus meneru. Komunitas ini berdiri sebagai sebuah organisasi yang hendak menjembatani dan membantu akselerasi industri kreatif di Bali yang bernilai signifikan, bersemangat komunitas, dan berkelanjutan. Gerakan semacam inilah yang penting, karena interkasi dan wacana (discoursi) yang mengusung semangat komunal mampu memupuk semangat, membangun persaudaraan, dan membentuk kekuatan kolaborasi. Upaya kolektif ini yang menjadin perangsang bagi pertumbuhan dan perbendaran dinamika kreativitas Bali yang saling mengisi dan bermanfaat bagi semua.

Bali Creative Community adalah sebuah simpul yang kreatif yang beranggotakan pribadi-pribadi yang bergulat pada dunia kreatif dan memiliki ketertariakn dengan ranah seni, budaya, dan teknologi. Komunitas ini berupaya menjalakan peran sebagai pemimpin (leading agent) bagi pertumbuhan industri kreatif Bali. Secara alami, muara internal komunitas berada pada domain berbagi kreatif, sebuah stimulus untuk berbagi ide kreatif di  antara para anggota dan mitranya. Dalam konteks eksternal, komunitas bergerak sebagai kelompok pelobi yang membangun kedekatan dengan para pemangku kepentingan, terutama pembuat kebijakan, untuk memberi masukan tentang legislasi yang ramah terhadap sektor kreatif untuk mendorong perkembangan industri kreatif. Pada saat yang bersamaan, komunitas juga bisa berperan sebagai kelompok penekan yang mampu memberi argumentasi kepada legislasi atau kebijakan yang memasung kreativitas. Dalam tatanan korporasi, komunitas hadir untuk meningkatkan nilai tawar dari para praktisi kreatif.

Kesungguhan Pemerintah Kota Denpasar

Pemerintah Kota Denpasar menyambut baik pengembangan kreativitas dengan mencanangkan "Denpasar Menuju Kota Kreatif Berbasis Budaya Unggulan" yang ditandai oleh seruan Walikota Denpasar saat itu, Ida Bagus Rai Dharmawijaya Mantra untuk membangun "Monumen Maya", sebuah monumen yang dibangun bukan dari pasir, besi, dan beton, tetapi sebuah monumen yang dibangun oleh karakter jati diri yang berbasis pada upaya untuk menjaga dan mengembangkan kebudayaan dengan kreativitas, kesejahteraan tubuh dan pikiran, pengetahuan, kemandirian, kebijaksanaan, dan kecerdasan warga.

Dari pemahaman tersebut, Kota Denpasar merintis berbagai pembinaan, pengembangan, dan penyediaan berbagai infrastruktur untuk menumbuhkembangkan kreativitas. Pada bulan Desember 2008, Pemerintah Kota Denpasar menggagas Denpasar Festival untuk mengkomunikasikan puncak-puncak kreativitas warga dalam pembangunan ekonomi kreatif dan kuliner. Denpasar Festival kemudian berjalan sebagai pesta kreativitas warga Kota Denpasr yang setiap tahunya digelar.

Pemerintah juga mengemas moda pengembangan dan pembangunan kota dalam bingkai branding Kota Denpasar dengan slogan "The Heart of Bali", sebuah kebijakan untuk membangun jati diri kota sebagai denyut jantung Bali melalui visi dan misi Kota Denpasar dengan kebudayaan, kreativitas, pariwisata, dan kesejahteraan.

Membangun Ekosistem Kreatif

Visi Pemerintah Kota Denpasar yang berkaitan dengan kreativitas adalah Ekonomi Kretif Berbasis Budaya Unggulan yang menegaskan, bahwa kreativitas lekat dengan pengetahuan dan kebudayaa, yang diterjemahkan sebagai integrasi antara tradisi dan modernitas, terutama dalam delapan aspek kehidupan kota, meliputi seni dan budaya, sumber daya manusia, lingkungan, industri dan niaga, pariwisata, teknologi, kebijakan pemerintah, dan layanan pemerintah.

BACA JUGA : Konsep Ekonomi Kreatif dan Pengembangan Pariwisata

Kedepan aspek tersebut mengakar pada sebuah konnsep Kota Kreatif yang berciri dan mengandung muatan berupa pembangunan citra dan identitas loka, kontribusi ekonomi yang signifikan, penciptaan iklim bisnis yang positif, pemanfaatan sumber daya yang terbarukan, penciptaan inovasi dan kreativitas sebagai keunggulan kompetitif, dan dampak yang positif kepada masyarakat. Kemampuan Kota Denpasar menjalankan misinya sebagai kota kreatif  yang mampu melestarikan segenap tradisionalismenya, merasng modernitas dan memberi peluang bagi pertumbuhsn subkultur alternatif dan independen, telah mendorong Bali menjadi sebuah zona fisik dan ranah melintas yang unik, nyaman, aman dan multikultur bagi residency, kungjungan dan investasi.

Integrasi peran para pemangku kepentingan dari hulu sampai hilir tidak diragukan lagi, melainkan sebuah keniscayaan untuk mewujudkan cita-cita Denpasar sebagai Kota Kreatif yang berbasis Budaya Unggulan. Para pemangku kepentingan berangkat dari sebuah kesadaran, bahwa tantangan utama sebuah kota kreatif adalah memprioritaskan pembangunan dan pengembangan ekonomi kreatfi melalui :
  1. Eksplorasi, dalam konteks pemataan terhadap luaran dan hasil dari sulurh kreativitas yang muncul dan tumbuh di Denpasar.
  2. Manajemen Strategis, berkaitan dengan pengungkapan visi dan misi, serta pembanahan dan peningkatan tata kelola dan tata laksana program kreatif yang Attractive, Beneficial, Congruent, Distinctive, Efficient and Effective, Functional, dan Growing, terutama yang bernafaskan ekologi, edukasi, dan ekonomi.
  3. Aktivasi, berupa materialisasi program terintegrasi yang bermuara dari keunggulan konten kreatif (film, musik, iklan, dan pustaka), produk kreatif (seni, kriya, fashion, seni visual, tenggara budaya, kuliner, dan desain grsfis), pertunjukan kreatif (seni pertunjukan,  musik, tari, teater, dan seni publik), sains kreatif (interactivity leisure, edutainment, technolotainment, bisinis internet, dan jejaring sosial dan web).
Denpasar adalah lokalitas di Bali yang memilik program dan festival paling komperehensif yang menanmpilkan capaian kreatif, baik tradisioanl, modern, maupun kontemporer, seperti Pekenan Lais Meseluk (dinamika dan revitalisai pasar tradisional), Sanur Village Festival (perayaan terhadap keagungan warisan dan kehidupan turistik di Bali yang membumi), Serangan Festival (perayaan terhadap konservasi lingkungan hidup, terutama ekosistem pesisir dan bahari), Maha Bhandana Prasadha (esensi keanggungan dan kharisma seni dan budaya adiluhung), Denpasar Festival (peranyaan keunggulan kreativitas), dan Denpasar Film Festival (perayaan komunitas dengan ekspresi film dokumenter).

Keseluruhan aktivitas kreatif tersebut merupaka bagian dari pelibatan dan pemberdayaan individu, seniman, budayawan, komunitas kreatif, dan  masyarakat luas yang bertujuan untuk mendidik dan membangun keseimbangan antara jiwa dan raga, lahir dan batin, dan spiritual dan material pada masyarakat secara kreatif menuju kesimbangan dalam perubahan dan tantangan dunia yang mengglobal.

Kemitraan quadruple-helix merupakan pilar penyengga esensial untuk mewujudkan citra dan program Kota Kraetif yang mampu mengayomi nilai-nilai ekspresif yang subur di Denpasar, yaitu meliputi :
  1. Nilai estetika, penyampaian kreativitas yang menjunjung tinggi elemen keindahan dan harmoni.
  2. Nilai spiritual, kreativitas dalam format aktivitas sekuler dan religius menjadi pencarian makna untuk merangsang pengertian, pemahaman, dan kesadaran terhadap kehidupan. 
  3. Nilai sosial, kreativitas yang mampu merekatkan individu, kelompok, komunitas, dan masyarakat luas.
  4. Nilai histori, kreativitas yang bertumpu, mengacu dan merefleksikan karya-karya unggulan di masa lampau.
  5. Nilai simbolis, kreativitas mampu menjadi ikon dan kebanggaan publiknya, dan merepresentasi esensi kehidupan masyarakatnya.
  6. Nilai autentik, kreativitas menginspirasi kelahiran karya-karya inovatif yang menjadi ide sentral untuk memperkuat tradisi melalui reinterpretasi, reintegrasi, dan adaptasi sesuai kebutuhan zaman.

Strategi Mempertahankan Eksisten Bali

Tantangan yang kemudian mengemuka adalah membuat sebuah strategi yang berasal dari ekosistem kreatif dan gerakan kolektif dari para kreator, seniman dan desainer yang bermitra dengan para pemangku kepentingan lain untuk membangun nilai baru yang lebih berkesinambungan. Strater tersebut hendaknnya memuat pemikiran dan gambaran besar yang mengarah kepada pembangunan dan pengelolaan kreativitas yang inklusif, orisinal, dan autentik, yang kemudian menciptakan apresiasi dan dampak. Sasaran yang ditujuh ini yakni kerativitas yang tidak hanya sekedar pencetak nilai ekonomi, namun juga mampu membuat dampak sosial, budaya, dan lingkungan bermanfaat dan menguntungkan.

Dari Strategi Menajadi Aksi

Seluruh pemangku kepentingan Kota Denpasar memahami betul, bahwa strategi yang baik tidak hanya  menjangkau visi dan pemikiran yang jauh kedepan, tetapi juga harus menjadi realitas yang diwujudkan dalam aksi nyata. Berdasarkan pemahaman ini, manusia Bali kemudian menggerakan proses berpikir desaii ketransformasi berbuat desain (design doing) atau bertindak desain (design acting),sehingga semua rencana berubah menjadi aksi dan wujud dalam kerangka kontekstual.

Perubahan Yang Indah

Para kreator dan insan kreatif telah mampu bersinergi dengan para pemangku kepentingn lain, maka pembangunan nilai-nilai telah terjadi dan memberikan dampak yang besar bagi sebuah destinasi wisata di Bali. Perubahan yang dilakukan  bersama itu menjadi sebuah tawaran baru yang berpijak pada konteks besar semangat budaya dan memiliki wujud masa kini yang fungsional sekaligus tetap indah.

Memaknai Denpasar Sebagai Kota Kreatif

Dalam lima tahun terakhir, Suasana kreatif Kota Denpasar telah banyak mengalami pembaharuan sebagai dampak dari kegiatan yang digagas oleh komunitas dan bisnis, dan program yang dijalankan pemerintah kota. Seluruh upaya tersebut didorong untuk penciptaan ekosistem kreatif yang penting untuk menggairahkan kota dalam lingkup ekonomi, sosial, budaya dan lingkungan.

Dengan aneka ekspresi dan beragam program, ruang-ruang kreatif itu hadir mewadahi aktivitas insan-insan kota. Keberadaan Danes Art Veranda, Taman Baca Kesiman, Rumah Sanur, Taman Japun, Manshed, Penggak Men Mersi, Antida Sound Garde, Lingkara Art Community, dan Lingkar Art Space telaah memberi ruang yang demokratis untuk bertukar ide, berekspresi, dan berkolaborasi. Peningkatan jumlah ruang kreatif yang inklusif ini telah mendorong pertumbuhan bisnis kreatif yang disadari oleh kesadarn untuk terhubung (connect), berkolaborasi (collaborate) dan komersialisasi (commerce).

Geliat kreativitas ini dilandasi oleh dua sifat Kota Denpasar, yang pertama berorientasi pada pariwisata melalui pemenuhan sarana dan prasana, dan kedua berorientasi pada pengembangan potensi sumber daya lokal. Sebagai satu contah, tenun patra adalah sebuah wirausaha kretif yang mampu melakukan inovasi kreatif daninovasi sosial dengan mengembangkan tenun tradisional melalui penciptaan motif baru yang diadaptasi dari motif ukiran yang terdapat di pintu kayu atau bangunan. Beberpa contoh pengembangan lainya adalah usaha berbasis pengembangan kuliner tradisional, busana dan aksesoris, musik, desain, penerbitan, fotografi, dan digital.

Dari uraian di atas kita dapat pahami, bahwa eksisten wisata Bali dimata dunia tidak terlepas dari kreativitas dan kemampuan kolaborasi seluruh pemangku kepentingan, para pelaku industri kreatif, dan pemerintah daerah yang telah memberi ruang untuk terbentuknya ekosistem kreatif pada masyarakatnya.

Sumber : Buku Putih, Ekosistem Yang Mengikat

Posting Komentar

0 Komentar