Konsep Ekonomi Kreatif dan Pengembangan Pariwisata

Konsep Ekonomi Kreatif dan Pengembangan Industri Pariwisata. 

Butonislandtravelling.com, Konsep Ekonomi Kreatif - Pada kesempatan kali ini kita akan mengulas bagaimana hubungan antara konsep ekonomi kreatif dan industri kreatif serta korelasinya dengan pariwisata. Untuk itu, terlebih dahulu kita akan jelaskan pengertian ekonomi kreatif. Dimana, ekonomi kreatif adalah aktivitas ekonomi yang bertumpu pada pengembangan ide dan gagasan (kreatif) yang ditunjang secara signifikan oleh pemanfaatan teknologi informasi dan digitalisasi dengan ciri-ciri yang signifikan berupa efisiensi, efektivitas, dan optimalisasi proses produksi dan penetrasi pasar.


Sementara, yang dimaksud idustri kreatif adalah sistem terpadu kegiatan ekonomi dari berbagai sektor industri dan gabungan dari budaya pada sektor publik, swasta, dan masyarakat sebagai produsen. Industri kreatif menuntut setiap komponennya untuk menjadi lebih inventif dan bekerja bersama mengatasi tantangan dalam sebuah periode perubahan dramatis. Sumber daya penting bagi industri kreatif yakni kepintaran, hasrat, motivasi, imajinasi, dan kreativitas menggantikan lokasi, sumber daya alam, dan akses pasar sebagai sumber daya industri. Jadi, bagaimana hubungan ekonomi kreatif dan industri kreatif?

Istilah Ekonomi kreatif dan indusri kreatif merupakan hal yang tidak bisa dipisahkan, karena keduanya merupakan aktivitas ekonomi yang menitip beratkan pada pengembangan ide, kreativitas, efisiensi, efektivitas dan optimalisasi proses produksi yang dilakukan manusia sebagai pelaku ekonomi kreatif atau industri kreatif yang memperhatikan nilai-nilai, seni dan budaya sosial masyarakat.

Perkembangan Ekonomi Kreatif Indonesia

Ekonomi kreatif di Indonesia mulai mendapat perhatian khusus dari pemerintah pada tahun 2009, ketika Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengeluarkan Intruksi Presiden Nomor Tahun 2009 tentang Pengembangan Ekonomi Kreatif. Intruksi presiden ini mendfinisikan ekonomi kreatif sebagai kegiatan ekonomi berdasarkan pada aktivitas, keterampilan, dan bakat individu untuk menciptakan daya kreasi dan daya cipta individu yang bernilai ekonomi dan berpengaruh pada kesejahteraan masyarakat Indonesia. Ekonomi kreatif digerakan terutama oleh pelaku-pelaku kreatif yang disebut Richard Florida (2002) sebagai kelas kreatif.

Pembentukan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, dan Bekraf 

Pemerintah melanjukat upayanya untuk mendorong perkembangan ekonomi kreatif melalui pembentukan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, yang memulai kiprahnya pada tanggal 19 Oktober 2011. Berikutnya, pada tahun 2015 pemerintah menerbitkan Peraturan Presiden Nomor 6 Tahun 2015 tentang Badan Ekonomi Kreatif, yang menjadi dasar pembentukan Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf).

Beberpa kota di Indonesia telah lama dikenal sebagai pusat industri kreatif, seperti Bandung, Yogyakart, Solo, Denpasar, Makassar, dan Pekalongan yang merupakan keunggulan yang terus dikembangkan dan dikuatkan oleh sinergi lintas pemangku kepentingan, baik pemerintah, Pemda, akademisi, pelaku usaha, maupun komunitas masyarakat.

Ciri-Ciri dan Sucbsektor Ekonomi Kreatif

John Howkins (2001) menyatakan, bahwa ekonomi kreatif merupakan relasi antara kreativitas dan ekonomi. Dari pengertian ekonomi kretaif yang diungkapkan John Howkis, kita dapat menarik ciri-ciri  eknomi kreatif yakni tidak terlepas dari tiga domain, yaitu warisan seni dan budaya, industri media dan hiburan, dan layanan bisnis ke bisnis (business to business) kreatif. Lingkup terakhir ini yang paling penting, dimana ciri-ciri ekonomi kreatif yang signifikan berupa efisiensi, efektivitas, dan optimalisasi proses produksi dan penetrasi pasar dimana produk atau layanan mampu memberi nilai tambah. Adapun 16 seubsektor ekonomi, yakni :
  • 1. Aplikasi dan Game
  • 2. Arsitektur
  • 3. Desain Interior
  • 4. Desain Komunikasi Visual
  • 5. Desain Produk 
  • 6. Fashion
  • 7. Film, Animasi dan Video
  • 8. Fotografi
  • 9. Kriya
  • 10. Kuliner
  • 11. Musik
  • 12. Penerbitan
  • 13. Periklanan
  • 14. Seni Pertunjukan
  • 15. Seni Rupa
  • 16. Televisi dan Radio
Konsep Ekonomi Kreatif Menuju Praktik Kota Kreatif

Badan Ekonomi Kreatif sebagai badan yang mendorong pertumbuhan nilai ekonomi Indonesia melalu 16 subsektor ekonomi kreatif dengan target tiga utama, yaitu peningkatan produk domestik bruto (PDB), ekspor, dan penyerapan tenaga kerja sebagaimana yang termuat dalam RPJMN 2015-2019. Melalui pekerjaan Bekraf, ekonomi kreatif didorong menjadi daya ugkit bagi sektor lain.

Bekraf menjadi lembaga terdepan untuk mengelolah dan menumbuhkembangkan  potensi ekonomi kreatif kabupaten/kota di seluruh Indonesia secara sinergi dan berkelanjutan. Kemudian ekonomi kreatif ini didorong sebagai konsep kota kreatif karena dianggap lebih dapat memiliki nilai dan dampak secara kewilayahan. Seperti yang diungkapkan Charles Landry (1994), bahwa ide ekonomi kreatif dapat diaplikasikan secara khusus pada ekonomi kreatif perkotaan yang mengarah pada kemunculan konsep Kota Kreatif.

Sebagaimana yang pernah disinggung diatas beberapa kota di Indonesia telah dikenal sebagai lumbung industri kreatif, seperti Bandung, Yogyakarta, Solo dan Denpasar. Kota-kota ini dengan jejaringya telah memanfaatkan kreativitas, tidak hanya terbatas pada produksi komoditas saja, tetapi juga sebagai solusi alternatfi untuk menyelesaikan permasalahan perkotaan.

Penerapan konsep kota kreatif ini juga sejalan dengan sasaran ke-8 dari Sustainable Developmen Goals (SGDs) yang digagas United Nations Development Programme (UNDP), yakni mempromosikan pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan, kerja yang produtif, dan pekerjaan yang layak bagi semua manusia. Dan sasar ke-11, yaitu mewujudkan kota yang inklusif, aman, nyaman dan berkelanjutan.

Ekonomi Kreatif dan Pengembangan Pariwisata

Pengembangan ekonomi kreatif pada suatu daerah akan mendongrak sektor lainnya, yang paling berpengaruh adalah sektor pariwisata yakni industi kreatif menjadi daya tarik kunjungan wisatawan. Salah satu daerah yang bisa menjadi contoh yakni Denpasar. Geliat kreativitas Denpasar dilandasi dua sifat yakni berorientasi pada pariwisata melalui pemenuhan sarana dan prasarana, dan kedua berorientasi pada pengembangan potensi sumber daya lokal.

Salah satu contoh, tenun patra adalah sebuah wirausaha kreatif yang mampu melakukan inovasi kreatif dan inovasi sosial dengan mengembangkan tenun tradisional melalui penciptaan motif baru yang diadaptasi dari motif ukiran yang terdapat di pintu kayu atau bangunan. Beberapa contoh pengembangan lainya adalah usaha berbasis pengembangan kuliner tradisional, busana dan aksesoris, musik, desain, penerbitan, fotografi, dan digital.

Pengembangan ekonomi kreatif di Denpasar Bali tidak terlepas dari aktivitas wisata yang membuat masyarakat Bali dan pemerintah bertransformasi menangkap adanya peluang usaha dari kunjungan wisatawan. Sebaliknya, dalam mejaga posisi sebagai daerah tujuan wisatawan, Denpasar terus berinovasi dan mengembangkan kreativastasnya yang memadukan kemajuan teknologi dengan kearivan lokal.

Sebagaimana visi Pemerintah Kota Denpasar yakni Ekonomi Kreatif Berbasis Budaya Unggulan yang menegaskan, bahwa kreativitas lekat dengan pengetahuan dan kebudayaan, yang diterjemahkan lebih lanjut sebagai integrasi antara tradisi dan modernitas, terutama dalam delapan aspek kehidupan kota, meliputi seni dan budaya, sumber daya manusia, lingkungan, industri dan niaga, pariwisata, teknologi, kebijakan pemerintah, dan layanan pemerintah.

Dari uraian di atas kita dapat menarik kesimpulan hubungan antara ekonomi kreatif dan pengembangan pariwisata seperti dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahakan. Pun dalam subsektor ekonomi kreatif menjadai aktivitas wisata atau bagian dari daya dukung wisata yang mempengaruhi minat kunjungan wisatawan. Sehingga sehingga dalam pengembangan pariwisata pun tidak cukup hanya mengandalkan pengembangan fasilitas objek wisata semata, tetapi juga penciptaan ruang  kreatif yang mewadahi ekosistem ekonomi kreatif.  

Posting Komentar

0 Komentar