Legenda Danau Pasi Bungi Mawasangka Timur ( KISAH CINTA DUA ANAK BERSAUDARA )

Danau Pasi Bungi


Legenda Danau Pasi Bungi - Pada Zaman dahulu kalah disuatu perkampungan yang ramai dimana mayoritas masyarakatnya bermata pencaharian sebagai Petani, hiduplah dua  anak manusia bersaudarah kandung serta yatim piatung yang telah ditinggalkan kedua orang tua mereka pada saat usia masi beliah, dimana sang kaka bernama La Pasi yang berjenis kelamin laki-laki dan Si adik bernama Wa'Unda berjenis kelamin perempuan, yang saat itu  la pasi masi berusia 4 Tahun dan Sang adik bernama Waunda berusia 2 Tahun. Setelah  ditinggalkan oleh kedua orang tua mereka,  kedua anak ini diasuh oleh dua keluarga yang berbeda, dimana Sang kaka bernama Lapasi diangkat oleh kelurga La Sori dan sang adik diangkat oleh seorang Janda bernama Wa kengku. Sebulan kemudian, Setelah orang tua mereka meninggal hari itu tibah  sangk Kaka Lapasi   meninggalkan kampung halaman  dibawa oleh orang tua  angkatnya pergi merantau, sedangkan Sang adik Waunda setiap harinya menemani seorang Wanita  bernama Wakengku yang merupakan  ibu angkatnya yang slalu menghabiskan waktunya berkebun. Setelah Usiah Waunda mencapai sepuluh tahun sesekali ia menanyakan mengenai dirinya kepada seoarang wanita yang ia pikir Wanita ini merupakan Ibu kandungnya, ucap Waunda Bertannya pada Ibunya ; "Ina naofa tompa kabalakuinia mina naperna'a amoha ulano amakua,? Inodinia alaheri mina akoama'a, anai lumaherino wae Salah?" ( ma kenapa saya sudah besar sampai hari ini  tidak pernah melihat wajah bapak,? Apa iya saya ini lahir tanpa ayah yang merupakan anak haram? ), wanita itu diam sejenak lalu berkata ; Ana ku mina suano anai lumaherino wae sala'a hintua, bae amamu ( anakku kamu bukan anak haram, kamu punya bapak) lalu wanita itu berkata lagi  serayah memegangi dan mengulus-ulus rambut Waunda, belum saatnya aku cerita sama kamu, dengan polosnya waunda mencoba menerima ucapan ibunya dan tertidur diatas pangkuan wanita itu. Sebenarnya Waunda tak ingin menanyakan hal serupa kepada ibunya karna lantaran takut ibunya tersinggung dan merasa sedih, tetapi kadang ejekan kawan-kawanya membuat ia tak tahan, sehingga menanyakan hal demian pada  Ibunya.

        11 TAHUN KEMUDIAN


           Pada saat itu terdengar kabar berita bahwa beberapa minggu akan di adakannya  sebuah pesta kampung; yang dimana pesta kampung ini sudah menjadi  tradisi masyarakas setempat yang dilaksanakan setiap 3  tahun sekali, dimana dalam pesta kampung ini  ramai setiap diadakannya kegitan ini dan banyak jenis perlombaan seperti seni dan olah raga sertah lomba-lomba lainya. Sehingga  masyarakat  kampung ini  meskipunt tinggal diluar daerah mereka menyempatkan diri untuk pulang  dan berpartisipasi dalam kegiatan-kegiatan yang diadakan dalam pesta kampung itu.Seperti masyarakat lainya setelah mendengar kabar itu Lapasi dan kelurga yang sudah lama tak pulang  kampung akhirnya mereka memutuskan untuk menyempatkan diri pulang kekampung halaman.
 Usiah lapasi yang sudah dewasa mencapai dua puluh tiga tahun saat itu,  sedangkan  waundah saat itu berusiah dua puluh tahun, mereka berdua tumbuh dewasa dan tak perna bertemu sejak lama yang akhirnya mereka tidak saling mengenal  lagi. Sudah 2 hari pesta kampung itu  berjalan,  pada hari kedua itu semua masyarakat berkumpul menyaksikan permainan olahraga Takoro ( sepak takrau  )  dimana pada saat itu Lapasi merupakan salah satu peserta lomba, lomba berjalan seruh dan tibah ditengah-tengah  permainan setiap kali lapasi menendang bola selalu terarah kepada seorang gadis yang sedang duduk dipinggiran lapangan menikmati  jalanya pertandingan ternyata gadis itu waunda, mungkin bola itu seolah menunjukan dan mempertemukan dua orang bersaudarah yang telah lama berpisah, namun kedua Insan anak manusia ini beranggapan lain saat lapasi memandangi  gadis itu ia gemetar lalu bertanya dalam hati apa aku jatuh cintah,? kenapa jatungku berdetak cepat saat memandangi wanita itu.

           Melalui pertemuin singkat itu, ternyata mereka telah saling menyimpan simpatik, mereka saling jatuh cintah dan sese kali mereka saling mencoba mencari satu sama lain berharap bisa saling bertatap untuk menjawab rasa penasaran mereka, ternyata pada hari ketiga mereka bertemu kembali disitu mereka saling memandangi, dengan raut wajh yang malu-malu,Lapasi layaknya seorang lelaki menyapa serta mengajak Waunda berkenalan ditengah keramaian itu. Dimalam puncak kegiatan pesta kampung tersebut, dimana mereka bertemu kembali, ternyata mereka sudah saling berjanjian sebelumnya untuk bertemu kembali dimalam itu. Melalui kesempatan itu dimana saat-saat  dua anak manusia sedang jatuh cinta, layaknya laki-laki normal Lapasi mengungkapkan perasaannya yang telah jatuh cinta pada Waunda yang tampa ia sadari merupakan Adik kandungnya sendiri, dengan wajah yang tersimpuh malu Waunda mebalas ungkapan dengan ungkapan atas apa yang ia rasakan selama ini. Lalu mereka putuskan untuk berpacaran tampa mereka ketahui bahwa mereka bersaudarah.
      Sebulan kemudian, Lapasi berniat untuk meminang waunda dan coba memberi tau  orang tuanya,  tanpa mengetahui latar belakang lapasi dan  waunda orang tua mereka sepakat untuk menikahkan dua anak ini. Hari yang berbahagiu itu tibah, Lapasi dan Waunda duduk dipelaminan, namun entah apa seolah langit menangis tak menginginkan pernikahan itu terjadi, selama enam minggu lamanya hujan selalu turun berturut dan tak berhenti, badai datang hingga menenggelamkan kampung  itu menjadikan kampung itu sebuah laut ditengah hutan ( yang saat ini dikenal masyarakat setempat sebagai danau Pasi Bungi atau dalam bahasa Indonesianya Danau  Batu Karang  ditengah air ), mereka berdu mencoba menyelamatkan diri dan berlari kesuatu tempat namun  seolah Bumi ingin menelan mereka yang tak menginginkan pernikahan mereka, ditempat mereka berhenti terjadi lagi goncangan yang begitu dahsyat bebatuan yang ada disekitar mereka runtuh dan muncul mata air yang tak tau apa penyebabnya,  saat ini masyarakat menyebutnya oe inulu. Lalu mereka mencoba berlari lagi kerah selatan mendekati pantai, namun sitiap barang yang mereka bawah dan benda yang mereka pegang  berubah menjadi batu,  lalu mereka putuskan untuk menelusuri dearah selatan, daerah pantai yang mereka anggap bisa menghidupi mereka. Namun mereka sebelum mendekati pantai mereka beristrahat dibawa pohon besar yang teduh, lagi-lagi kejadian yang sama terjadi dan barengi munculnya mata air didalam gua yang seolah-olah ingin mengubur dan menenggelamkan mereka. dan saat ini mata air ini sebagi tempat permandian masyarakat  bernama oe Kakaha yang berada di Desa Lasori (Lamena).
 Lagi-lagi.mereka selamat, lalu mereka berlari mendekati pantai namun air laut dihadapan mereka seolah marah hingga mereka tak memberanikan diri mendekati pantai itu hanya menelusuri daerah dari atas tebing dan tengah perjalan mereka sesekali mereka beristrahat dan coba bermain dan beristrahat. Lalu mereka melanjutkan perjalan mereka kearah Timur, di tengah perjalanan mereka berdua melihat pantai yang mereka anggap bisa jadikan sebagai tempat peristrahatan mereka, namun seolah alam tak menginginkan merka untuk berada disitu angin kencang datang seolah ingin menerbangkan mereka, hingga akhirnya topi yang dipakai waunda jatuh diterbangkan angin kepinggir pantai yang akhirnya berubah menjadi sebuah batu, yang saat ini masrakat menyebutnya tohu dan pantai itu disebut masyarakat pantai watotoru. sihingga mereka berdua tak berani untuk berada ditempat tersebut dan melanjutkan perjalanan mereka.

Wantopi
  Ditengah malam saat mereka beristrahat dibangunkan suarah kerah atau bahasa pancanax ndoke yang menghampiri mereka, tiba-tiba tanah yang di tumpangi monyet tersebut runtuh dan lagi-lagi jejadian yang sama, hingga monyet tersebut menjadi korban  tenggelam seperti ditelan bumi. ( mata air ini  berada didesa wantopi, masyarakat setempat biasanya menyebutnya oe wandoke ). kejadian itu membuat mereka meninggalkan tempat itu dimana atas kejadian itu seolah menunjukan mereka akan bernasib seperti yang dialami monyet tersebut. mereka terus berlari dan sesekali kejadian tersebut terus terulang dan mencul mata air oe mamba oe wahumbia, oe mondawu yang berada didesa Bungi dan Desa Batubanawa , yang hingga akhirnya perjalanan mereka terhenti dibagian Timur, mereka tak melihat ada jalan lagi yang bisa mereka lewati, yang ada dihadapan mereka hanya laut yang disebla laut itu ada perkampungan dibawa bukit. Mereka beruda  memutuskan untuk menyebrangi lautan tersebut lalu Lapasi mencoba membuat sebuah perahu yang berukuran cukup besar yang bisa membawa mereka menyebrangi teluk tersebut, Namun perjalanan mereka belum sampai ketengah, laut Badai datang yang hingga akhirnya menenggelamkan mereka berdua ditelan bumi dan perahu yang mereka tumpangi berubah menjadi batu.
 Yang dimana batu tersebut yang dianggap sebagi perahu yang ditumpangi oleh Lapasi dan Waunda berada dilokasi tepat Dipinggir Pantai Desa Batubanawa dan masryakat biasa  menyebutnya Botiwaunda. Desa Batubanawa dinalai soleh masyarakat Mawasangka Timur sebagai tempat berakhirnya Kisah Cinta  duan anak manusia bersaudari lapasi dan waunda yang berujung tragis.


 Dan menurut masyrakat setempat sesekali mereka mendengar suara jeritan dan teriakan dari Batu yang disebut Botiwaunda tadi yang hingga masyarak menyebutnya juga dengan nama Batu bernyawa yang barang kali nama desa Batubanwa diambil dari batu  tersebut karna dimana Batubanawa berarti Batu bernyawa...

 Demikian lah penggalan cerita Legenda Danau Pasibungi dan seputaran Mawsangka Timur, mungkin itu mustahil tapi seperti itulah legenda yang diambil dan berkembang pada Masyarakat Mawasangka Timur kebanyakan....
          

   
     

Posting Komentar

2 Komentar